-->

Hai !!! Selamat membaca..! Semoga menginspirasi...

Cinta Yang terbagi bag 8


Di akhir ‘oh’ nya Jodha terdengar pengumuman kalau pesawat telah tiba di tujuan dan akan bersiap-siap untuk landing, semua penumpang di minta untuk kembali ke posisinya masing-masing dan memasang ikat pinggangnya. Mirza Hakim berjalan cepat ke bangkunya dan segera memasang sabuk pengaman.

Jodha mengencangkan ikat pinggangnya. Wajahnya kembali terlihat tegang. Jalal mengamati perubahan raut wajah Jodha dan menunggu kesempatan untuk menyentuh tangan Jodha lagi. Tapi sayang, Jodha tidak meletakkan tangannya di lengan kursi. Dia menyandar dengan mata terpejam dan tangan bersendekap di dada. Jalal terlihat kecewa, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.

Dan pesawatpun landing denga mulus. Setelah pesawat berhenti sempurna, penumpang di persilahkan meninggalkan pesawat. Mirza dan Jalal bangkit mengambil tas nya di lemari bagasi lalu  ikut berdiri antri di belakang penumpang lain. Sementara Jodha masih duduk santai di kursinya. Dia menghidupkan hpnya. Bunyi pesan masuk berondongan seperti bunyi petasa imlek. Jalal menoleh kearah Jodha dengan penuh harap. Sayang Jodha terlalu fokus membaca pesan.

Setelah tidak ada lagi penumpang yang lalu di sampingnya, Jodha segera berdiri dan berjalan keluar. Pramugari tersenyum padanya dan mengucapkan terima kasih. Jodha membalas salam pramugari dengan senyum dan anggukan kepala.

Setelah berhasil mengklaim bagasinya, Jodha segera keluar untuk pergi ke shelter bus Damri jurusan Bogor saambil menarik koper munggilnya. Tiba-tiba sebuah mobil pribadi mendekat  perlahan. Begitu kaca jendela di turunkan, terlihatlah wajah tampan Jalal..

“Jodha… naiklah! Kami akan mengantarmu..” pinta Jalal.

Jodha menoleh dengan takjub. Mirza Hakim melambaikan tangan. Jodha mendekat dan menolak dengan halus, “tidak. Terima kasih. Perjalananku jauh, keluar Jakarta…”

Jalal keluar dari mobil, “tidak apa. Kemanapun tujuanmu, kami akan mengantarmu..”

“Aku mau ke Bogor, ada Damri di situ…” tolak Jodha.

“Kami juga mau ke Bogor. Marilah…” tanpa menunggu, Jalal merebut koper Jodha dan membawanya ke mobil. Mau tidak mau, Jodha terpaksa ikut. Jalal memasukan koper Jodha ke bagasi. Dia lalu membuka pintu penumpang depan dan mempersilahkan Jodha duduk. Jodha menolak, dia ingin duduk di kursi penumpang. Jalal memaksa, “wanita harus di utamakan…”


Jodha pun menurut. Mirza menyapa Jodha dengan gembira. Seperinya gembira karena akhirnya bisa duduk di dekat perempuan cantik. Tapi sayang, kegembiraan Mirza Hakim terganggu saat Jalal membuka pintu kemudi. Mirza menatap Jalal dengan heran.

Jalal menyuruh Mirza turun, “kau istirahatlah di belakang, biar aku yang nyetir…”

Mirza keberatan, “aku saja bang, aku lebih hapal jalan ke Bogor..”

Jalal melotot galak. Dengan kesal, Mirza terpaksa turun. Jalal menggantikan posisi Mirza. Mirza duduk di kursi penumpang sambil berguman lirih. Jalal pura-pura bertanya, “apa kau bilang?” Mirza menggeleng, “tidak apa-apa. Cepatlah maju, nanti  kena tilang kita…”

Jalal segera memacu mobilnya keluar bandara menuju jalan Tol Jagorawi. Biasanya di hari jam macet seperti ini, Bogor – Jakarta akan memakan waktu kurang lebih 2 jam meski lewat tol. Jodha tidak banyak bicara, dia menyerahkan semuanya pada Jalal yang terlihat fokus menyentir dan sesekali bertanya pada Mirza arah yang harus diambil.

Mirza menjawab dengan enggan sambil mendumel, “.. sudah kubilang, aku lebih hapal jalan itu. Tidak percaya…”

“Bukan tidak percaya, tapi sekali-kali pingin juga aku nyetir…” ucap Jalal membela diri.

Jodha hanya tersenyum mendengar keributan kecil itu. Jalal melirik kearah Jodha dan bertanya, “oh ya, Bogor nya kemana?”

“Botani Square…”
“Mau shopping? Jauhnya…” celetuk Mirza.
Jodha tertawa, “ada seminar besok…”
“Seminar apa ya?”
“Apoteker…”
Jalal menyela, “kau menginap di mana?”
“Di hotel…”
“Sudah pesan?”
“Sudah…”
“Dimana?”
“Santika. Jadi nggak perlu kemana-mana lagi. Seputaran situ saja..”
“Simple..” sahut Mirza.

Jodha mengangguk, “ya begitulah. Dari Soeta naik Damri. Itu saja….”

“Tidak masalah. Kebetulan kami juga ke jurusan yang sama…” ucap Jalal. Di belakang, Mirza mencibir geli. Jalal melihat itu dari balik spion dan melotot geli juga.

“Oh ya, sebenarnya kalian mau kemana?” tanya Jodha ingin tahu.

Jalal dan Mirza menjawab berbarengan. Jalal menyebut Bogor, Mirza menyebut Bandung.

Jodha tersenyum geli, “Bogor atau Bandung?”

Mirza hendak menyahut, tapi Jalal menyela lebih cepat, “ke Bogor dulu… lalu ke Bandung. Mirza selalu mengingat-ingat Bandung, karena punya gebetan di sana..”

“Tidak. Mana ada gebetan?”

“Mojang priangan itu?”

“Tidak ada. Jangan percaya Jo…”

Jalal melotot, “Jo?”

“Jodha?!” ralat Mirza. Lalu tanya Mirza pada Jodha, “bolehkah aku memanggilmu Jo?”

Jodha mengangguk. Jalal protes, “kau harus memanggilnya kak Jodha!”

“Kenapa?”

“Tidakkan kau tahu kalau dia lebih tua darimu?”

“Bagaimana abang tahu? Sepertinya kami sebaya… bukankah begitu Jo?”

Jodha mengangguk. Jalal memaksa, “pokoknya kau harus memanggil Jodha dengan sebutan kakak…”

“Kenapa?”

“Pokoknya harus!!”

“Diktator!”

“Kakak!”

“Iya kakak, Diktator…” ejek Mirza. Jalal tak membalas.

Jodha tertawa geli, “apa kalian selalu seperti ini?”

Mirza menyahut, “tidak selalu. Hanya jika sedang berebut perhatian wanita cantik saja…”

Jodha tertawa renyah, “ohhh…. “

Lalu ketiganya terlibat percakapan yang mengasikkan. Banyak hal mereka bahas, mulai dari kemacetan ibukota, politik hingga nilai rupiah yang terlindas dollar. Hingga tanpa terasa mereka tiba di halaman Botani Square.

Setelah mobil terparkir rapi, Jodha turun. Mirza mengambilkan koper Jodha dari bagasi belakang.

Jalal menghampiri Jodha, “kapan kau pulang..”

Jodha berpikir sebentar, “kalau tidak besok ya lusa…”

“Tunggulah. Kami akan menjemputmu. Kita bisa pulang bersama-sama..” pinta Jalal.

“Bukankah kalian harus ke Bandung?”

“Yup.  Bisa di atur…”

Jodha menerima kopernya dari Mirza dan mengucapkan terima kasih pada kakak beradik itu, “terima kasih atas tumpangannya. Sampai jumpa…”

“Kami bisa mengantarmu check ini…” tawar Mirza.

Jodha menggeleng, “tidak perlu. Terima kasih. Sudah ada reservasinya..”

“Baiklah. Selamat tinggal..” ucap Mirza. Jodha melambaikan tangan sebelum melangkah pergi. Jalal menatap kepergian Jodha dengan tatapan berat. Seolah-olah dia akan kehilangan permatanya yang paling berharga.

Mirza melihat itu dan menepuk bahu Jalal, “ingat kak Ruq di rumah…”

Jalal tersadar. Dia tersenyum masam. Lalu kedua kakak beradik itu masuk kemabli ke mobil. Kali ini,

Mirza masuk ke kursi penumpang. Tapi jalal mengusirnya, “enak saja! Kau yang nyetir, aku lelah…”

Mirza menggomel panjang pendek. Jalal tak mengubrisnya. Dia duduk di kursi penumpang dengan pandangan mengarah ke pintu masuk Botani Square di mana Jodha menghilang. Dia membayangkan Jodha muncul dan menghampiri mereka. Tapi itu tidak terjadi. Lalu Mirza menghidupkan mesin dan mobil yang mereka kendarai berjalan pelan menuju portal parkir.


Popular Posts