-->

Hai !!! Selamat membaca..! Semoga menginspirasi...

Cinta yang terbagi bag 2


Dan Jodha, rela memanggul tanggung jawab itu bersama ketiga kakaknya. Dia tidak merasa enggan membantu mengurus manajemen perkebunan, meski sangat sibuk mengurus Apotek dan toko herbalnya. Karena dirinya juga sangat suka dengan tanaman.

Dan sore itu, di luar dugaan Jodha, ayahnya membawa tamu ke gudang untuk di perkenalkan padanya. Jodha menyambut wanita setengah baya yang anggun itu dengan ramah. Wanita itu bernama Hamida Bano, seorang eksportir yang sangat sukses. Kedatangannya adalah untuk menawarkan kerja sama.

“Arcana Multi Enterprise kami menerima order untuk memasok okra ke salah satu perusahaa Jepang. Kami berpikir untuk memenuhi kebutuhan itu dengan menanan sendiri di kebun. Tapi ternyata, setelah di kalkulasi, tidak mampu memenuhi omzet yang kami terima. Karena itu saya ingin menawarkan kerja sama pada Tuan Bharmal untuk memenuhi kuota yang kurang tersebut…”

Jodha mendengarkan penjelasan Hamida tentang kerja sama yang dia tawarkan. Hamida menjelaskan semuanya dengan jelas dan gemblang…

“Jika Tuan Bharmal setuju dengan kerjasama ini,  kami akan menyiapkan bibit dan tenaga ahlinya.  Tuan hanya bertanggung jawab menyiapkan lahan dan pupuk nya. Dan kami akan membeli hasil panen sesuai dengan harga pasar. Bagaimana?” tanya Hamida.

Jodha terlihat berpikir. Tuan Bharma menatap Jodha, “bagaimana menurutmu, nak?”

“Bisakan nyonya menyiapkan proposalnya untuk kami pelajari?”

Nyonya Hamida tersenyum, dia mengeluarkan sebuah map dari tas tangannya, “jangankan proposal, surat perjanjian kerjasama sudah pun kami persiapkan…”

Jodha menerima map yang di sodorkan nyonya Hamida. Dia membuka map itu dan membaca isinya sekilas, “kami minta waktu untuk memikirkannya dan berdiskusi dengan anggota keluarga yang lain..”

“Berapa lama?”

Jodha meminta pertimbangan dari tauan Bharmal, “2 hari?” Tuan Bharmal mengangguk.

Hamida turut mengangguk mengiyakan, “baiklah, 2 hari tidak masalah. Semakin cepat semakin baik. Segeralah kabari saya begitu ada kesepakatan. Agar kita bisa mengesahkan kerjasama ini secara legal..”


Tuan Bharmal mengangguk takzim, “pasti. Kami sangat menghargai tawaran kerjasama ini. Semoga segalanya berjalan lancar..”

Setelah pembicaraan bisnis yang singkat itu, nyonya Hamida meminta izin untuk melihat-lihat Fazenda.Tuan Bharmal dan Jodha menemani Nyonya Hamida berkeliling perkebunan. Dia terkagum-kagum dengan penataan lahan yang menurutnya sangat efisien. Palawija dan buah-buahan di tanam dengan sistem tumpang sari. Sehingga tidak ada lahan yang dibiarkan terbengkali. Semuanya produktif.

Sebagai buah tangan, Jodha memetik beberapa buah labu madu untuk nyonya Hamida. Wanita itu menerimanya dengan gembira, “saya pernah melihat labu madu yang lebih besar dari ini. Tapi labu ini terlihat sangat istimewa. Ukuran yang mungil sangat unik. Kulitnya yang keemasan begitu menggoda selera…”

“Ini labu madu organik, Nyonya. Sengaja di tanam untuk konsumsi pribadi... ” jelas Jodha.

“Wah..berarti saya sangat beruntung sekali bisa mencicipinya..” ucap Hamida. Jodha tersenyum renyah.

Setelah puas berkeliling fazenda, Hamida pamitan. Sebelum pergi dia menjabat tangan Tuan Bharmal dan Jodha bergantian. Terlihat betul kalau dia sangat berharap kerjasama mereka terwujud. Wajahnya terlihat sangat berseri-seri setiap menatap Jodha. Dan caranya mencuri pandang kearah gadis itu, menyimpan misteri.

Begitu Nyonya Hamida masuk kedalam forturner dan melaju pergi. Tuan Bharmal segera menggandeng Jodha dan mengajaknya kembali ke Casa grande. Sebelum mobil Forturner itu lenyap di balik gerbang, Nyonya hamida menyempatkan diri manatap sekali lagi kearah Jodha dan tersenyum. ***

Malam itu seluruh anggota keluarga Bharmal berkumpul untuk membahas kerjasama yang di tawarkan oleh Nyonya Hamida mewakili Arcana Multi Enterprise. Bhagwandas dan ketiga adiknya bergantian membaca proposal itu secara seksama. Ada keraguan di mata mereka untuk menerima apa yang di tawarkan. Bhagwandas mengungkapkan alasannya…

“Tapi ayah, meski memiliki nilai ekonomis tinggi, tapi masyarakat kita mengangapnya sayiran aneh, karena berlendir. Kalau mereka tidak membeli hasil panen kita, kemana kita akan menjualnya? Pangsa pasarnya dalam negeri sangat sedikit…”

Tuan Bharmal mengangguk paham dengan kerisauan Bhagwandas. Tapi Jodha menyela pendapatnya, “dalam perjanjian itu kan sudah disebutkan bang, kalau hasil panen akan ditampung oleh mereka. Mereka sendiri yang akan melakukan pemanenan begitu tanaman siap panen. Mereka yang menyiapkan tenaga dan sebagainya. Kita terima bersih saja. Itu sangat menggiurkan bukan?”

“Tapi Jo, kalau seumpama mereka mangkir, kita tak punya peluang untuk memasarkannya, karena pangsa pasarnya tidak ada..”

“Kalau begitu, kita minta klausa tambahan. Bahwa mereka harus menampung semua hasil panen kita, jika tidak, maka mereka harus memberi kita kompensasi sesuai kerugian yang kita terima. Bagaimana?” saran Jodha.

Bhagwandas bertanya, “apakah bisa menambahkan klausa itu dalam pernjanjian kerjasama ini?”
Jodha mengendikkan bahu, “kita bisa mencobanya. Untuk kenyamanan kedua belah pihak. Agar kita tenang dan tidak was-was. Jadi bagaimana?”

Tuan Bharmal menanyai Jodha, “jadi menurutmu, kerjasama ini memiliki prospek dan menguntungkan?”


Popular Posts