Langkah kakiku terhayun tanpa arah
Setengah hati aku berjalan dijalur cinta
Terasa ingin berlari lepas
Terkadang pula ingin menjerit keras..
Dadaku sesak oleh harumnya yang tidak lagi menarik
semerbaknya bukan lagi penuh gairah
gaung nya tak seindah dulu
dan kilaunya telah hangus di makan usia
Jauh jarak yang kutempuh untuk melangkah ke magligai cinta
namun yang kudapati hanyalah hiasan fatamorgana belaka
Meski seindah Aurora bornealis... tapi itu cuma maya
Nun....jauh di ujung sana
Jalan cinta terentang masih panjang
entah apa yang akan kutemui...
dalam perjalanan ku nanti....
Mungkin..... Aku terlambat mengenalmu
Mungkin..... Aku terlambat memahamimu
Mungkin .... Aku terlambat menyadari
BAhwa hidup seseorang berjalan sesuai dengan takdirnya
Bila..... Hatiku resah, hanya engkau yang hadir di benakku
KAta-kata mu akan menyejukan hati,
menghapus benci dan menjadikannya gelora kasih tak terperih
Belum seumur jagung aku mengenalmu...
TApi aku telah terikat begitu erat padamu...
KAu melapis hatiku dengan sejuta kasih
Menjagaku laksana bingkai yang mudah retak
Menyejukanku dengan selaksa kata yang berhembus laksana pawana dari surga
NAmun.....aku selalu resah berliput prasangkah
takut jika semua ini hanya mimpi...
yang akan lenyap begitu ku terjaga di pagi buta
Sebab semakin hari....aku semakin menyayangimu..
semakin mengenalmu....
semakin memahamimu....
MAtamu sebening air di perigi tua
yang penuh dengan kasih dan air mata...
Tiada yang indah dalam hidupku,
Selain berasa di sisimu…
Kau buat aku merana mengapai kasihmu…
Kau pelita hidupku…
Kesenduhan matamu
Memberi kedamaian dalam hatiku,
Akankah cintamu dapat kuraih?
Sementara ribuan kumbang selalu mengurungmu…
Namun itu takkan membuatku patah
Karena cinta kasihku hanya untukmu…
Segengam rindu yang kumiliki,
Kupersembahkan padamu…
Kaulah Kekasihku…
Pujaanku..selamanya!
Angin bertiup menerpa pucuk-pucuk cemara panderosa
Burung bercicit menyenandungkan pujian
Keindahan seperti inilah yang selalu kita nikmati
Berlari ditengah Savana
Mencium harum bunga kemuning
Merangkai pucuk-pucuk bunga ilalang
Jika kita bisa bersama dalam sehari,
Kita akan bersama….
Jika kita hanya bisa bersama dalam sedetik,
Kita tetap akan bersama…
Kaulah pujaanku…
Kekasihku selamanya…
Aku menyapa langit
Memujanya dengan kasihku
Aku berseru pada bintang
Mungkinkah ia akan dapat kuraih?
Kusentuh angin yang berhembus…
Kutanyakan padanya …..
Apakah bias rinduku telah sampai padamu?
Ku dengar…
Kudengar … alunan merdu
Kicau burung kucica
Dia datang…
Membawa cintamu….
Meminta kesetiaanku…
Meminta kepercayaanku
Menyampaikan jeritan jerinduanmu…
Kucicaku….
Sampaikan salamku pada nya…
Dalam sebentuk rindu yang membara…..
Di kalbu…..
Sembilu….
Memedar gelombang prasangka
Menghampus kepercayaan yang mulai sirnah…
Betapa penantianku tak berujung
Kuhabiskan seperempat dari sisa hidupku…
Untukmu…
Untuk cintamu….
Haruskah aku menunggu sekian waktu lagi?
Agar genap sudah penderitaanku…..
Terbaring tak berdaya
Menatap dinding-dinding putih yang mengungkung jiwa dan cita
Hanya kesunyian panjang yang membentang..
Menerpa dinding dan kisi-kisi jendela hati
Kensunyian tenpat berkaca
Melihat keburukan diri
Kala raga tak berdaya
Kesunyian seperti kaca…
Transparan dan tembus pandang…
Berbias kenangan, harapan dan cita…
Andai bisa di ukir…
Pasti wujud pantulan hati dan jiwa..
Apa menurutmu….?
Yang membuat hati bergetar…
Saat dua pasang mata saling pandang…
Apa menurutmu…?
Yang hadir saat tak diharap…
Dan pergi saat dinanti
Apa menurutmu…?
Yang menyatukan pendapat yang berbeda
dari dua indan yang bertentangan
tak berartikah itu bagimu?
Seperti angin yang menghembus debu jalanan?
Detik demi detik berlalu
Dekian waktu tleh terlewati tanpa satupun yang pasti
Dimana kucari….bayangmu….kasihmu…cintamu….
Apakah hanya dusta?
Sebaris kata indah yang pernah kau lontakrkan dulu…
Apakah tiada maaf?
Jika ku ingin kembeli merangkai hari-hari indah bersamamu…
Aku sangat menyayangimu
Apapun yang kulakukan…maafkanlah aku…
Samudra cinta menanti kita
Sampai kapan kau berdiiri didepan pintu?
Tak inginkah kau merengkuh dan membawa aku dalam dekapanmu?
Apakah cukup bagimu dengan hanya menatapku?
Meski ada yang lain dalam hidupku….
Dalam hatiku hanya dirimu!
Aku terlahir dari bilur-bilur masa lalu,
berselimut kabut sutra ungu,
dan membeku dalam buaian embun malam.
Aku menyusuri lorong-lorong kehidupan,
Dengan beban yang sarat oleh ranumnya,
dan piala-piala berisi anggur pelepas dahaga,
yang kesemuanya ..kuperuntukan bagimu..wahai kembara….
Aku berjalan mengikuti perkembangan zaman,
menjadi saksi atas peristiwa-peristiwa diatasnya,
bersamanya aku bernyanyi, menangis dan tertawa….
Dengan kata-kata indah kurangkai syairku….
Dengan nada-nada mengusik sukma kunyanyikan laguku…
Dengar…..
Dengarlah wahai kembara…
Senandung yang kulantunkan…
Senandung kehidupan…
Senandung Kamasutra…
Mey’ 97
Dalam perjalanan antara gunung dan lautan serta gurun pasir..
Aku teringat pada kesejukan hatimu…
Dan…meski sering kali ku tak mengerti,
apa yang kurindukan dalam kedamaian dan gema lautan luas tak berbatas
ketika hujan menari diatas dedaunan,
kala wajah langit di pantulkan embu,
saat jalan setapak di selimuti kabut,
dan saat kasih sayang bersemayam dalam hatiku,
bersenyawa dengan diriku, menjadi saksi akan kehadiranku,
dan himbauan akan cintamu padaku….
Sejumput salju dalam dirimu mengalir….
Memadamkan bara di hatiku..
Memberi kesejukan dalam kehampaan
Angin berhembus
Menerpa kisi-kisi hati yang terlelap….
Membantut luka-luka yang berdarah….
Angin bernyanyi….
Menyenandungkan irama jiwa….
Menyeka tetes-tetes keringat
Setiap detik adalah berharga waktu yang berlalu tak akan kembali…
Apa yang kau perbuat hari ini tak akan terulang diwaktu yang sama…
Angin berkata….
“Aku adalah udara yang bergerak, berhembus dan bernyanyi tanpa kata…
Apalah artiku bagimu…?
Kala cinta hadir dalam hati,
resah gelisah seakan mulai menghampiri,
keindahan yang di harap,
tak akan pernah hadir…. sebab
Rasa cemburu terpupuk subur…,
ketakutan akan kehilangan….,
keresahan akan di tinggalkan….,
kerinduan yang tak tergapai….
Ketika cinta hadir dalam jiwa,
duka nestapa tiada terasa..,
kebencian menjadi kerinduan….,
kedukaan laksana kebahagiaan…..,
sebab..
Tiada lagi yang hadir dalam benak…,
selain bayangan wajahnya….,
kekasih yang di cinta….,
yang menghadirkan sejuta rasa….
Yang kuingin…. tatapan lembut penuh kasih,
bukan…tatapan kosong tak berarti…
Yang kuharap…..kejujuran sebuah persahabatan,
bukan….kepalsuan di balik tirai hitam..
Buat apa berkata Iya…jika dalam hati berkata tidak…,
Buat apa berucap sayang jika dalam hati benci…
Tak perlu kemunafikan itu!
Untuk apa basa-basi jika hanya menyesatkan hati…???
Kehidupan ini memang bercadar,
namun tak perlu kaupindahkan cadar itu untuk menutupi kepribadianmu..,
aku tak suka semua itu
Kemunafikan……, basa basi….,
untuk apa semua itu?????????
Aku adalah aku…
Yang kuingin tulusnya sebuah persahabatan….!!!
Bukan permusuhan tersembunyi.



